Kamis, 26 April 2012

Konsep "bahagia" itu adalah.....



Kondisi senantiasa bahagia dalam situasi apa pun, inilah. yang senantiasa dikejar oleh manusia. Manusia ingin hidup bahagia. Hidup tenang, tenteram, damai, dan sejahtera. Sebagian orang mengejar kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun harta. Dia menyangka bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagaiaan. Ada yang mengejar kebahagiaan pada tahta, pada kekuasaan. Beragam cara dia lakukan untuk merebut kekuasaan. Sehab menurtnya kekuasaan identik dengan kebahagiaan dan kenikmatan dalam kehidupan. Dengan kekuasaan sesrorang dapat berbuat banyak. Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan. Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan. Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan. Dan sangkaan-sangkaan lain.
Lantas apakah yang disebut"bahagia' (sa'adah/happiness)?
Selama ribuan tahun, para pemikir telah sibuk membincangkan tentang kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia, dan bersitat kondisional. Kebahagiaan bersifat sangat temporal. Jika dia sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah kebahagiaan. Maka. menurut pandangan ini tidak ada kebahagiaan yang abadi dalam jiwa manusia. Kebahagiaan itu sifatnya sesaat, tergantung kondisi eksternal manusia. Inilah gambaran kondisi kejiwaan masyarakat Barat sebagai: "Mereka senantiasa dalam keadaan mencari dan mengejar kebahagiaan, tanpa merasa puas dan menetap dalam suatu keadaan.
Islam menyatakan bahwa "Kesejahteraan' dan "kebahagiaan" itu bukan merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan pula dia suatu keadaan hayali insan yang hanva dapat dinikmati dalam alam fikiran belaka.
Keselahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan hakikat terakhir yang mutlak yang dicari-cari itu — yakni: keyakinan akan Hak Ta'ala — dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya.'
Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati yang dipenuhi dengan keyakinan (iman) dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Para sahabat nabi, rela meninggalkan kampung halamannya demi mempertahankan iman. Mereka bahagia. Hidup dengan keyakinan dan menjalankan keyakinan.

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannva. Sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Apakah kamu tidak memahaminya?
Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ma'rifatullah", telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan:
"Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu bila kita rasakan nikmat, kesenangan dan kelezatannya mara rasa itu ialah menurut perasaan masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dan tubuh manusia.
Ada pun kelezatan hati ialah ma'rifat kepada Allah, karena hati dijadikan tidak lain untuk mengingat Tuhan. Seorang rakyat jelata akan sangat gembira kalau dia dapat herkenalan dengan seorang pajabat tinggi atau menteri; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan yang lebih tinggi lagi misalnya raja atau presiden.
Maka tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan. Lebih dari apa yang dapat dibayangkan  oleh manusia, sebab tidak ada yang lebih tinggi dari kemuliaan Allah. Dan oleh sebab itu tidak ada ma'rifat yang lebih lezat daripada ma'rifatullah.
Ma'rifalullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan. bahwa tiada Tuhan selain Allah" (Laa ilaaha illallah). Untuk itulah, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia wajib mengenal Allah. Caranya, dengan mengenal ayat-ayat-Nya, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah.
Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan manusia memperhatikan dan memikirkan tentang fenomana alam semesta, termasuk memikirkan dirinya sendiri.
Disamping ayat-ayat kauniyah. Allah SWT juga menurunkan ayat-ayat qauliyah, berupa wahyu verbal kepada utusan-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena itu, dalam QS Ali Imran 18-19, disebutkan, bahwa orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang bersaksi bahwa "Tiada tuhan selain Allah", dan bersakssi bahwa "Sesungguhnya ad-Din dalam pandangan Allah SWT adalah Islam."
Inilah yang disebut ilmu yang mengantarkan kepada peradaban dan kebahagiaan. Setiap lembaga pendidikan. khususnya lembaga pendidikan Islam. harus mampu mengantarkan sivitas akademika-nya menuju kepada tangga kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Kebahagiaan yang sejati adalah yang terkait antara dunia dan akhirat.
Kriteria inilah yang harusnya dijadikan indikator utama, apakah suatu program pendidikan (ta'dib) berhasil atau tidak. Keberhasilan pendidikan dalam Islam bukan diukur dari berapa mahalnya uang hayaran sekolah; berapa banyak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri dan sebagainya. Tetapi apakah pendidikan itu mampu melahirkan manusia-manusia yang beradab yang mengenal Tuhannya dan beribadah kepada Penciptanya.
Manusia-manusia yang berilmu seperti inilah yang hidupnya hahagia dalam keimanan dan keyakinan: yang hidupnya tidak terombang-ambing oleh keadaan. Dalam kondisi apa pun hidupnya bahagia, karena dia mengenal Allah, ridha dengan keputusanNya dan berusaha menyelaraskan hidupnya dengan segala macam peraturan Allah yang diturunkan melalui utusan-Nya.
Karena itu kita paham, betapa berbahayanya paham relativisme kebenaran yang ditaburkan oleh kaum liberal. Sebab, paham ini menggerus keyakinan seseorang akan kebenaran. Keyakinan dan iman adalah harta yang sangat mahal dalam hidup. Dengan keyakinan itulah, kata Igbal, seorang Ibrahim a.s. rela menceburkan dirinya ke dalam api. Penyair besar Pakistan ini lalu bertutur hilangnya keyakinan dalam diri seseorang. lebih buruk dari suatu perbudakan.
Sebagai orang Muslim, kita tentu mendambakan hidup bahagia semacarn itu; hidup dalam keyakinan: mulai dengan mengenal Allah dan ridha, menerima keputusan-keputusan-Nva, serta ikhlas menjalankan aturan-aturan-Nya. Kita mendambakan diri kita merasa bahagia dalam menjalankan shalat, kita bahagia menunaikan zakat, kita bahagia bersedekah, kita bahagia menolong orang lain, dan kita pun bahagia menjalankan tugas amar ma'ruf nahi munkar.
Dalam kondisi apa pun. maka "senangkanlah hatimu!" Jangan pernah bersedih.
"Kalau engkau kaya. senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit melalui hartamu.
"Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang sering menimpa orang-orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepadamu lagi, lantaran kemiskinanmu..."
"Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu! Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacimu..."
Mudah-mudahan. Allah mengaruniai kita ilmu yang mengantarkan kita pada sebuah keyakinan dan kebahagiaan abadi, dunia dan akhirat. Amin.

Rabu, 18 April 2012

Cerita Sukses

Apapun cerita sukses, akan diminati banyak orang. 
Tak seorang pun yang tidak mengiginkan sukses.
Namun seringkali, kesuksesan itu bak pisau bermata dua..
di satu sisinya saja yang sering dianggap dan dihargai orang
sedang sisi lainnya tidak atau jarang diketahui.

Sisi kesuksesan lebih banyak diceritakan orang, tetapi sisi kegagalan sering banyak dilupakan.
Padahal dibalik kegagalan lah pelajaran hidup itu lebih banyak memberikan bimbingan, dibanding kesuksesan itu sendiri yang memiliki dampak melenakan.

Banyak pakar dan sudah menjadi rahasia umum bahwa Sukses dapat didefinisikan sebagai pertemuan antara peluang dan kesiapan.

Bagi pelaku bisnis, peluang bukan hanya ditunggu-tunggu, tetapi justru mereka menciptakan peluang. Dan peluang itu tidak datang dua kali. Namun seringkali perbedaaannya adalah pada kesiapannya. Siapa yang siap saat menangkap peluang, dialah yang akan sukses.

Contoh sederhana dapat dilihat dari cerita petualangan berikut ini.

Sejumlah orang-orang pecinta alam sedang berombongan melintasi jembatan yang di bawahnya terletak sungai dengar arus air yang cukup deras.
Sejurus kemudian, kelompok pertama melihat ada seseorang yang terperosok dan jatuh ke sungai. lalu kelompok ini berusaha mengatasi masalah. Mereka coba menyusun sebuah organisasi, menunjuk ketua kelompok, regu penyelamat dan seksi logistik, namun apa yang terjadi ? orang yang tenggelam ini malah makin terseret arus  dan tidak tertolong.

Berbeda ceritanya, bagi seorang yang melihat peluang, maka ia akan langsung terjun menangkap tangan atau bagian tubuh orang yang tenggelam tadi, lalu kemudian meminta bantuan kelompok atau teman lainnya untuk mengulurkan tali atau apapun jenis bantuannya. dan dialah yang akan menyelamatkan orang yang akan tenggelam tadi.

Nah, cerita menyusun organisasi memang tidaklah salah namun tidak akan menyelamatkan pada saatnya ada orang tenggelam dan itu terlambat!. Sedangkan seorang pengambil resiko akan segera bertindak mengambil langkah. Inilah yang dinamakan mengamankan "peluang". Jadi bila "organisasi" itu diibaratkan sebagai kesiapan, maka sejak jauh-jauh dari keberadaan peluang haruslah disiapkan. Maka bila kesiapan sepeti ini bertemu dengan peluang, maka  kesuksesan yang akan didapatkan.





Minggu, 15 April 2012

7 Kebiasaan Orang yang Bahagia


Orang-orang yang bahagia akan memiliki kebiasaan yang membahagiakan pula; sesederhana itu. Orang-orang paling bahagia yang saya kenal memiliki 7 kebiasaan yang terlihat jelas dalam diri mereka. Jika anda ingin membuat hidup anda lebih bahagia, anda mungkin dapat mempertimbangkan untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan berikut ini dalam kehidupan anda.
“Sebagian orang merasa bahagia sesuai dengan apa yang mereka pikirkan”.
- Abraham Lincoln -

1. Ikut Ambil Bagian dalam Sesuatu yang Anda Minati – Anda bisa mengikuti kegiatan apapun. Anda bisa ikut ambil bagian dalam kegiatan yang bersifat religius, bergabung dengan kelompok yang mendukung tujuan tertentu, atau menapaki karir anda dengan tekun. Dalam setiap kegiatan yang anda pilih, hasil psikologis yang diraih mempunyai sifat sama. Anda ikut ambil bagian sepenuhnya dalam kegiatan yang anda minati. Kegiatan semacam ini akan memberikan kebahagiaan dan makna dalam kehidupan anda.

2. Habiskan Waktu Bersama Teman-Teman dan Keluarga – Kehidupan yang bahagia adalah kehidupan yang anda lalui bersama teman-teman dan keluarga. Semakin kuat hubungan pribadi yang anda miliki serta semakin kerap interaksi bersama teman-teman dan keluarga, maka semakin bahagia pula anda.

3. Pikirkan Hal-hal yang Positif – Seringkali orang terlalu berkonsentrasi pada hal-hal negatif dan tidak menyisakan waktu untuk merefleksikan hal-hal yang berhasil mereka raih secara positif. Merupakan hal yang alami bagi seseorang untuk mengkoreksi keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka dan memfokuskan diri mereka pada hal tersebut, namun harus terdapat keseimbangan dalam menempatkan diri anda. Sangatlah penting untuk merefleksikan hal-hal baik yang anda peroleh sementara anda mengkoreksi hal-hal yang buruk. Mengingatkan diri anda terus menerus terhadap kesuksesan pribadi yang anda raih setiap harinya akan memiliki dampak positif yang sangat berarti dalam kebahagiaan emosional anda.

4. Gunakan Sumber Daya yang Anda Miliki – Orang rata-rata biasanya merasa kagum ketika mereka melihat seseorang yang memiliki kekurangan fisik memperlihatkan tanda-tanda kebahagiaan secara emosional. Bagaimana mungkin seseorang yang berada dalam kondisi fisik seperti itu bisa terlihat begitu bahagia? Jawabannya terletak pada bagaimana mereka menggunakan sumber daya yang mereka miliki. Stevie Wonder tak bisa melihat, jadi ia menggunakan kemampuan mendengarnya dalam dunia musik, dan ia sekarang memiliki 25 piala Grammy sebagai bukti.

5. Ciptakan Akhir yang Bahagia Setiap Waktu – Kekuatan dari akhir merupakan sesuatu yang mengagumkan. Akhir dari sebuah pengalaman yang dialami seseorang dapat mengubah persepsi keseluruhan orang tersebut. Bayangkan anda sedang membaca sebuah novel yang memprovokasi pikiran anda. Sekarang bayangkan bagian akhir dari novel tersebut ternyata sangat buruk. Meskipun cerita nya sangat menegangkan hingga saat-saat menjelang akhir, apakah anda akan tetap merekomendasikan novel tersebut pada orang lain? Orang selalu mengingat bagian akhirnya. Jika bagian akhir tersebut berakhir bahagia, maka pengalaman tersebut juga menciptakan perasaan bahagia. Selesaikan apa yang sedang anda kerjakan, selesaikan dalam keadaan baik, dan ciptakan akhir yang bahagia dalam kehidupan anda jika memungkinkan.

< 6. Gunakan Kekuatan Pribadi Untuk Menyelesaikan Sesuatu – Setiap orang memiliki kekuatan pribadi yang unik. Kita memiliki bakat dan keahlian yang berbeda. Kebahagiaan emosi akan datang secara alami pada mereka yang menggunakan kekuatan pribadinya untuk menyelesaikan sesuatu. Ketika anda berhasil mencapai sesuatu karena keahlian anda sendiri, maka penghargaan psikologis yang anda peroleh sangatlah bernilai.

7. Nikmati Setiap Kebahagiaan yang Anda Raih – Hal-hal terbaik yang bisa anda nikmati di dunia ini sifatnya gratis. Hal-hal tersebut muncul dalam bentuk yang sederhana dan muncul di hadapan anda pada waktu dan tempat yang tidak bisa anda duga. Kebahagiaan semacam ini diatur oleh alam dalam situasi tertentu dan ditangkap oleh panca indera kita. Momen semacam ini mungkin saja muncul saat anda sedang melihat pantulan sinar matahari terbenam dari sebuah kolam ketika anda sedang menggenggam tangan orang yang anda sayangi. Menyadari kemunculan momen-momen semacam ini akan menimbulkan kebahagiaan tak terduga dalam kehidupan anda.

Keluarga Kecil itu Bernama "Kita"

"Keluarga adalah awal segalanya"

Percaya atau tidak, keluarga lebih utama diperjuangkan daripada kepentingan sendiri-sendiri. Setiap masalah-masalah sengketa, pasti diawali dengan langkah "kekeluargaan". Keluarga adalah pangkal dan ujung perjalanan kehidupan keseharian. Bahkan bila keluarga dapat tetap berkumpul di Syurga, maka keluarga adalah segalanya.


Dalam keluarga kecil kami. Tersebutlah seorang ayah yang bernama "saya". Lalu sang ayah beristrikan "dia" dan lahirlah anak pertama bernama "kaka" dan yang kedua "dede". maka keluarga itu kini bernama "kita".


Diakui atau tidak, keluarga bisa mengalahkan kepentingan kerja sekalipun. Bahkan seringkali dijadikan alibi, ketika seseorang lalai dan bolos dari tempatnya bekerja. Padahal keluarga bukan tempat menyembunyikan kesalahan, tetapi sebaliknya tempat terbaik untuk meredakan masalah. Keterbukaan dan kesaling-percayaan menjadi bekal penyelesaian banyak persoalan. Dari sinilah jiwa dibentuk, sejak masa kanak-kanak. Pendidikan keluarga adalah awal pembentukkan fondasi akhlak anak-anak. Bisa dibayangkan bila pembentukkan moral hanya diserahkan pada "sekolahan" yang waktunya pun tidak lebih banyak dari waktu keluarga, tentu hanya sebatas ritual belaka. Namun keluarga akan memiliki kesempatan lebih banyak berinteraksi secara nyata bagi orang tua dan anak-anaknya untuk menanamkan pendidikan moral dan akhlaq, maka niscaya di sekolah adalah tempatnya mengasah dan membentuk prestasi anak didik.


Keluarga memang tidak terbatas.Sehingga keluarga tidaklah hanya dibatasi "saya" dan "dia", tetapi segitiga Ayah-Ibu-Anak. Inilah konteks keluarga seutuhnya, karena seluruh siklusnya akan kembali pada tiga serangkai ini...Kakek dan Nenek ada karena mereka memiliki cucu, Ayah dan Ibu ada karena mereka memiliki anak, dst. Jadi akan aneh juga rasanya bila sebuah keluarga dianggap harmonis hanya di sekitar suami-istri dan anak-anaknya, tetapi dengan ibu-bapak kandung atau ibu-bapak mertuanya tidak harmonis. Sungguh keluarga harmonis bukanlah dibatasi seperti itu. tetapi menjadi pusat keharmonisan itu sendiri.


Anak menjadi pusat keluarga

Banyak orang tua rela berkorban demi anaknya. Tak ada yang dapat memutuskan ikatan anak dan orang tua. maka Keberadaan Kakek-Nenk-nya anak-anak di sini menjadi penting. Karena itu kami ingin melengkapi keluarga "kita" itu untuk keseluruhan anggotanya. Dan sungguh keluarga Syurga tidaklah mudah untuk dibentuk. Semoga saja, seraya terus berusaha.

Selasa, 06 September 2011

Sang Ibu

Polos nan lugu. Itulah kesanku pa sosok sang Ibu ini.

Audzu billahi minas syaithoonirrojiim, bismillahirahmaanirrahim...suaranya lirih...sepanjang malam ia habiskan untuk membaca quran, terus dan terus ia lakukan hingga mataku pun terlelap tanpa sadar. kuterbangun lagi, ia pun masih meneruskan bacaannya...subhanallah, pikirku, sungguh contoh yang baik...semoga Allah melindungimu...

esok hari, di tengah hari kulihat lagi, ia duduk di depan qurannya yang sudah lusuh...kembali terdengar suara lirihnya membaca ayat-ayat al-quran...suaranya kini tampak lebih jelas, terbata-bata...

ba'da Ashar, kembali kumelihat ia pun masih melantunkan ayat-ayat suci itu dengan suara khasnya...tidakkah ia melakoni hidupnya yang lain? pikirku penuh keingintahuan...

sesekali ia tersenyum, dan terdiam sambil kembali melanjutkan bacaannya...suatu saat kusampai juga di akhir bacaannya, lalu ia pun mengambil air wudhu, dan shalat pada waktunya...lama ia terdiam di kamarnya...lalu setengah jam berselang...iapun keluar lagi dan kembali membawa qurannya itu...subhananallah...

kutanyakan, mengapa ia lakukan itu terus menerus??...anaknya yang perempuan menjawab..."ia sudah seminggu ini tak dapat tidur, memejamkan matanya, meski sekedar melepas lelah..namun ia tidak pernah bisa tertidur..."

kenapa bisa begitu?? tanyaku, "hmmmmh...ini kan musim liburan, dokter, apotek, puskesmas, atau rumah sakit rata-rata sedang tidak bertugas...Ibu sudah kehabisan obat...lanjut anaknya lagi...

lalu, kalau sudah ada obatnya apakah ia bisa tertidur...??? "ya, jika obatnya ada baru ia bisa tertidur".

sudah berapa lama Ibu, menderita seperti ini?? "sudah 28 tahun"

masya Allah...

(bersambung)

Selasa, 23 Agustus 2011

DAMAI DENGAN DIRI SENDIRI


Islam mengajarkan kedamaian. Damai membawa pada kesejukkan kehidupan. Namun seseorang tidak mungkin dapat menebarkan kedamaian kepada orang lain jika dirinya sendiri tidaklah damai. Boleh jadi ada seseorang yang menginginkan sesuatu di luar kenyataan hidupnya. Seseorang seringkali menginginkan sesuatu yang tidak menjadi miliknya.

Duhai, alangka indahnya jika saja aku tidak memilih jalan ini, tentu tidak akan menjadi sesulit ini…seorang mahasiswa juga sangat mungkin berkata, seandainya aku mengambil fakultas ‘anu’ dan tidak menjadi mahasiswa di fakultas ini, tentu aku akan lebih sukses…seorang PNS juga bisa jadi mengandai-andaikan mendapatkan kesenangan di luar kepegawaiannya…padahal semua itu di luar kenyataannya. Bagaimana mungkin orang seperti ini damai dengan dirinya sendiri. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak damai dengan dirinya sendiri. Semua ini adalah karena dorongan nafsu. Nafsu manusia memang mendorong seseorang untuk berandai-andai. Menginginkan sesuatu yang bukan menjadi miliknya dan tidak menerima apa yang menjadi kenyataan hidupnya.

Seorang yang sakit gigi, meringis kesakitan dan bahkan ia dengan marahnya membenturkan kepalanya ke dinding. Seseorang yang tidak menerima kenyataan dan kepahitan yang menimpa dirinya, merasa dirinya paling menderita dan berusaha untuk membunuh dirinya…orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak berdamai dengan dirinya sendiri.

Pertanyaannya, lalu bagaimana agar bisa berdamai dengan diri sendiri???

Al-quran mengajarkan, bahwa kedamaian seseorang berawal dari penerimaan dirinya. “Katakanlah: "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al Qur'an) dari Tuhanmu, sebab itu barang siapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barang siapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu". (Q.S Yunus, 108).

Bagaimana caranya bisa berdamai dengan diri sendiri.

Pertama, tidaklah mungkin kedamaian akan muncul dalam diri seseorang jika saja dirinya selalu menginginkan apa yang bukan di luar kuasanya, bukan menjadi miliknya, padahal ia juga mengetahui itu di luar kemampuannya. Maka mulailah untuk menerima kenyataan yang menghampiri diri, dan segera menghilangkan segala penolakan terhadap kenyataan tidak memiliki sesuatu yang diinginkan.

Kedua, berpuasa hati. Inilah resep untuk mengendalikan angan-angan dan keinginan yang tidak pernah surut. Kata seorang bijak, tanpa puasa hati, tak mungkin seseorang bisa berdamai dengan dirinya. Islam mengajarkan qonaah, Rasulullah mencontohkan yaitu senantiasa menerima apa yang menjadi bagiannya. Hati yang berpuasa akan menghilangkan angan-angan. Ia selalu dihiasi perasaan puas dan sering berkata ‘alhamdulillah’…semakin banyak kata ‘alhamdulillah’ yang dikumandangkan semakin luas rasa penerimaan dan rasa syukur dalam dirinya. Itulah yang akan meluaskan dan melapangkan hatinya.

Puasa hati inilah yang akan mengendalikan dirinya berdamai dengan hati. Ia akan menjalani hidupnya dengan ketulusan hati. Maka berdamailah dengan hati hingga berdamai dengan diri sendiri. Jika manusia telah berdamai dengan dirinya maka, ia juga akan berdamai kepada selainnya.Ia akan menebarkan kedamaian yang tidak saja menghiasi dirinya namun juga kepada sekelilingnya. Inilah yang diajarkan rasulullah Muhammad saw. Menjadi manusia rahmatan lil alamin.Insya Allah…

(inspired by mutiara hati, rewrite by denata95)

SEKELUMIT GARAM KEHIDUPAN

PESAN GURU
(DIKUTIP DARI PESAN SANG GURU)

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya.

“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.

“Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru.

“Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.” Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.

“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

“Sekarang kau ikut aku” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka.

“Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.” Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya,

“Bagaimana rasanya?”

“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.

Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”

“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum.

“ Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid terdiam, mendengarkan.

“Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu’(hati) yang menampungnya . Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”iii

Farmasi Sebagai Profesi

" Pharmacy : The art or profession of preparing and preserving drugs, and of compounding and dispensing medication according to the...