|
Adults As
Learners
|
|
Part of being an effective instructor involves understanding how adults learn best. Compared to children and teens, adults have special needs and requirements as learners. Despite the apparent truth, adult learning is a relatively new area of study. The field of adult learning was pioneered by Malcom Knowles. He identified the following characteristics of adult learners:
|
|
Motivating the
Adult Learner
|
|
Another aspect of adult learning is motivation. At least six factors serve as sources of motivation for adult learning:
|
|
Barriers and
Motivation
|
|
Unlike children and teenagers, adults have many responsibilities that they must balance against the demands of learning. Because of these responsibilities, adults have barriers against participating in learning. Some of these barriers include lack of time, money, confidence, or interest, lack of information about opportunities to learn, scheduling problems, "red tape," and problems with child care and transportation.
Motivation
factors can also be a barrier. What motivates adult learners? Typical
motivations include a requirement for competence or licensing, an expected
(or realized) promotion, job enrichment, a need to maintain old skills or
learn new ones, a need to adapt to job changes, or the need to learn in order
to comply with company directives.
The
best way to motivate adult learners is simply to enhance their reasons
for enrolling and decrease the barriers. Instructors must learn why
their students are enrolled (the motivators); they have to discover what is
keeping them from learning. Then the instructors must plan their motivating
strategies. A successful strategy includes showing adult learners the
relationship between training and an expected promotion.
|
|
Learning Tips
for Effective Instructors
|
|
Educators must remember that learning occurs within each individual as a continual process throughout life. People learn at different speeds, so it is natural for them to be anxious or nervous when faced with a learning situation. Positive reinforcement by the instructor can enhance learning, as can proper timing of the instruction.
Learning
results from stimulation of the senses. In some people, one sense is used
more than others to learn or recall information. Instructors should present
materials that stimulates as many senses as possible in order to increase
their chances of teaching success.
There
are four critical elements of learning that must be addressed to ensure that
participants learn. These elements are
Motivation.
If the participant does not recognize the need for the information (or has
been offended or intimidated), all of the instructor's effort to assist the
participant to learn will be in vain. The instructor must establish rapport
with participants and prepare them for learning; this provides motivation.
Instructors can motivate students via several means:
In
addition, participants need specific knowledge of their learning results (feedback
). Feedback must be specific, not general. Participants must also see a reward
for learning. The reward does not necessarily have to be monetary; it can
be simply a demonstration of benefits to be realized from learning the
material. Finally, the participant must be interested in the subject.
Interest is directly related to reward. Adults must see the benefit of
learning in order to motivate themselves to learn the subject.
Reinforcement.
Reinforcement is a very necessary part of the teaching/learning process;
through it, instructors encourage correct modes of behavior and performance.
When
instructors are trying to change behaviors (old practices), they should apply
both positive and negative reinforcement.
Reinforcement
should be part of the teaching-learning process to ensure correct behavior.
Instructors need to use it on a frequent and regular basis early in the
process to help the students retain what they have learned. Then, they should
use reinforcement only to maintain consistent, positive behavior.
Retention.
Students must retain information from classes in order to benefit from the
learning. The instructors' jobs are not finished until they have assisted the
learner in retaining the information. In order for participants to retain the
information taught, they must see a meaning or purpose for that information.
The must also understand and be able to interpret and apply the information.
This understanding includes their ability to assign the correct degree of
importance to the material.
The
amount of retention will be directly affected by the degree of original
learning. Simply stated, if the participants did not learn the material well
initially, they will not retain it well either.
Retention
by the participants is directly affected by their amount of practice during
the learning. Instructors should emphasize retention and application. After
the students demonstrate correct (desired) performance, they should be urged
to practice to maintain the desired performance. Distributed practice is
similar in effect to intermittent reinforcement.
Transference.
Transfer of learning is the result of training -- it is the ability to use
the information taught in the course but in a new setting. As with
reinforcement, there are two types of transfer: positive and negative.
Transference
is most likely to occur in the following situations:
Although
adult learning is relatively new as field of study, it is just as substantial
as traditional education and carries and potential for greater success. Of
course, the heightened success requires a greater responsibility on the part
of the teacher. Additionally, the learners come to the course with precisely
defined expectations. Unfortunately, there are barriers to their learning.
The best motivators for adult learners are interest and selfish benefit. If
they can be shown that the course benefits them pragmatically, they will
perform better, and the benefits will be longer lasting.
Contributor: Stephen Lieb
Senior Technical Writer and Planner, Arizona Department of Health Services
and part-time Instructor, South Mountain Community College
from VISION, Fall 1991 |
Jumat, 04 Mei 2012
PRINCIPLES OF ADULT LEARNING
iNnEr BeaUtY
Seseorang dikatakan cantik, karena ada perbandingan sehingga bisa menilai si A cantik atau si B kurang cantik.
Secara kasat mata, penampilan tubuh
yang proporsional, lebih menarik dibandingkan wanita yang memiliki tubuh yang
berat berlebih atau sebaliknya. Kulit yang putih berseri terkesan
lebih enak dilihat daripada kulit yang lebih gelap.Sebenarnya penilaian cantik ini
sangat relative, tapai bagaimanapun kesan cantik memang akan terlihat pertama
kali dari penampilan fisik.
Kesan cantik yang terlihat dalam
penampilan fisik ini, pada akhirnya cukup banyak wanita yang terjebak dan salah
dalam mengekspresikan kecantikan yang sesungguhnya mereka miliki. Karena sibuk memperhatikan
kecantikan fisik, banyak wanita lupa, kalau sebenarnya ada kecantikan lainyang
jauh lebih menarikdariapada hanya kecantikan yang sifatnya sekedar fisik
semata, yang disebut dengan inner beauty.
Tidak sedikit juga wanita yang
memiliki kecantikan fisik yang akhirnya tampak hambar atau tidak menarik,
karena pancaran dari cara dia bicara, kelakuan serta intelektual yang mereka
miliki tidak menunjang kecantikan fisik yang ia miliki.
Apa hubungannya intelektual, cara berbicara dan kelakukan seseorang dengan
kecantikan? Tidak banyak memang yang memahami hubungan kecantikan yang dimiliki
dengan beberapa faktor ini. Arti intelektual dalam hal ini tidak diartikan tingginya ilmu yang dimiliki
seseorang, tetapi kesadaran dan penguasaan akan ilmu itu sendiri. Sehingga
mampu mengaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Semua orang pasti akan setuju, seseorang yang hanya menonjolkan
kecantikannya, akan tidak tampak menarik jika memiliki perilaku yang kurang
baik, cara bicara dan tutur kata yang tidak enak untuk didengar.
Merasa pintar, tapi kenyataannya tidak dapat menunjukkan apa yang dikoarkannya
akan membuat citra dirinya semakin tercoreng. Perasaan kagum akan muncul ketika
melihat orang-orang yang memiliki kecantikan luar dalam, tidak hanya fisik saja
yang cantik tapi perilaku dan aktualisasi wawasan yang dimilikinya juga membuat
orang-orang kagum dengannya.
Sebagian laki-laki mengaku tidak begitu tertarik dengan wanita yang cerdas
dan memiliki intelektual yang baik, asalkan memiliki penampilan secara fisik
yang menarik. Sebenarnya, alasan ini hanya berlaku bagi pria yang merasa terancam dengan
wanita yang kelebihan intelektual yang mereka miliki yang diaggap sebagai
sebuah ancaman dan saingan. Beberapa pria salah mengartikan, wanita yag cerdas dan vokal ketika
mengeluarkan pendapat diidentikan dengan wanita yang ingin bersaing dengan
pria, dan dianggap wanita pembangkang terhadap pasangannya.
Pemikiran seperti itu, akhirnya, banyak juga wanita yang tidak ingin
menunjukkan inner beauty
sesungguhnya. Mereka lebih senang dianggap lemah, bukan hanya dari segi fisik,
tapi dalam banyak hal..
Sikap lemah yang ingin ditunjukkan dengan harapan akan mendapat perhatian
yang lebih terhadao laki-laki yang merasa akan menjadi pahlawan saat diberi
kesempatan dapat menunjukkan kemsampuannya di depan wanita yang memiliki fisik
sangat menarik.
Pada akhirnya sebagian perempuan sibuk memperhatikan penampilan fisik yang
menurutnya lebih disenangi kaum laki-laki. Padahal tentu saja tidak semua
laki-laki yang tertarik dengan penampilan fisik saja tanpa diimbangi inner beauty yang ia miliki.
Tapi memang suatu hal yang kurang bijak juga rasaya jika seseorang wanita
hanya memcari pembenaran selalu dengan mengunakan kata inner beauty hanya karena secara fisik ia memang tidak cantik.
Tidak masalah seorang wanita mengakui secara fisik ia memang tidak cantik,
karena secara fisik hal tersebut tidak bisa dipungkiri.Tapi bukan berarti hal
tersebut membuatnya menjadi seorang wanita yang minder dan jadi pesimis dalam
berbagai hal yang ingin dilakukannya.Alangkah luar biasa dan kagum ketika
melihat wanita yang tidak cantik tapi memiliki rasa percaya diri yang begitu
besar.
Bukan sekadar rasa percaya diri yang
besar saja, tapi mereka mampu menunjukkan eksistensinya dalam masyarakat tanpa
mendengar kata-kata minder atas kekurangan fisik yang ia alami.Berbagai
prestasi mampu mereka tunjukkan dalam masyarakat.***
SEMUA WANITA
CANTIK
Tidak ada wanita
yang tidak cantik, yang ada wanita yang tidak tahu kelebihan dan kekurangan
yang dimilikinya.
Cantik secara
lahiriah tidaklah cukup jika tidak dibarengi dengan kecantikan dari dalam.
Kecantikan fisik penting tapi bukan yang utama, karena yang utama adalah
kecantikan dari dalam yang tidak akan pernah mati sifatnya yang disebut dengan inner beauty.
Sementara
kecantikan lahiriah perlahan akan hilang dimakan usia.

Apakah keadaan "Normal" itu?
Untuk dapat disebut normal, kita setidaknya harus memenuhi dua syarat. Normal dalam arti teknis dan dalam arti non-teknis. Dalam arti teknis artinya dapat diukur dari statistik atau angka rata-rata, orang bilang "kuantitiatif". Dalam Arti non-teknis adalah bila ukuran atau bayangan ideal secara subjektif, kualitatif, mendekati bayangan itu. Hanya saja ukuran non-teknis ini tentu tidak ada hubungan sama sekali dengan jumlah rata-rata.
Orang yang bersikap jujur terhadap sesama, termasuk bayangan ideal yang patut dimiliki manusia normal dalam tingkah laku dan tutur katanya. Oleh karena keadaan normal itu bukanlah apa yang disebut nilai rata-rata melainkan suatu norma yang ideal, maka kita tak dapat menerangkannya secara kuantitatif maupun secara statistik. Rata-rata statistik hanya akan memberikan data-data sosiologis. Hal ini tidak mengungkapkan suatu pandangan tertentu ke dalam keadaan jiwa seseorang, juga tidak ke dalam susunan kejiwaan dari individu. Masalahnya adalah, karena keadaan normal itu harus utuh antara ukuran fisik dan ukuran jiwa.
Keadaan normal seperti yang digunakan dalam penilaian psikologis dan konsultasi dengan individu yang sehat atau terganggu, hanyalah dapat diukur dengan ketentuan yang bersifat ideal dan bersifat kualitatif.
Citra ideal bagi Kesadaran Diri Sendiri
Citra ideal merupakan satu kebutuhan mutlak bagi setiap orang yang mencari arti hidup ini sebagai satu keseluruhan. Citra ideal adalah norma petunjuk. Bagaikan garis-garis besar haluan, mereka hanya memperlihatkan jurusan yang harus ditempuh, yang harus kita pilih pada waktu kita mau memperoleh KESADARAN DIRI SENDIRI. Mereka bukanlah sasaran yang harus kita gapai, melainkan sekedar tanda-tanda petunjuk arah kemana kita harus menjuruskan KESADARAN DIRI KITA SENDIRI itu.
semakin konsisten hidup kita ke arah citra ideal ini, semakin jelas kita menampakkan keadaan normal yang kita harapkan itu, semakain murni keadaan TINGKAH LAKU kita yang wajar, dan selanjutnya semakin maju kita menggerakkan DIRI KITA SENDIRI, sehingga dapat mengurangi gejolak yang tidak wajar dalam lingkungan masyarakat kita.
Masalahnya kemudiaan adalah, menilai orang lain itu lebih gampang, tetapi tidaklah mudah menilai DIRI KITA SENDIRI bukan?
sulitnya merendahkan hati...
semoga dimensi kompetensi ini...
membasuh hausnya nurani...
teman-teman, kita
sudah diajarkan DIMENSI KOMPETENSI, meliputi : (1) Task Skill yaitu
kemampuan melaksanakan tugas-tugas dan kewajiban individu, (2) Task
Management Skill yaitu mengelola sejumlah tugas yang berbeda dalam
satu pekerjaan, (3) Contigency Skill yaitu kemampuan merespon
dan mengelola kejadian irreguler dan masalah, (4) Job/Role Environment
Skill yaitu kemampuan menyesuaikan dengan tanggung jawab dan harapan
lingkungan kerja dan jangan lupa (5)Transfer Skill yaitu kemampuan
menghantarkan dan memberikan arahan. Bila ditilik-tilik, sekali lagi
ditilik-tilik...rupanya DIMENSI KOMPETENSI ini sangat mirip dengan apa yang
diajarkan Rasullah sebagai Ukuran TAQWA, coba saja lihat...dan
keadaan normal itu tidak lain adalah keaadaan dimana ALLAH RIDHO...
bukankah kita secara
individu memiliki tugas dan kewajiban utk beribadah..kemudian
sejumlah kewajiban mahdoh dan ghoir mahdoh harus
kita kelola, meski keadaan tidak normal kita tetap harus kembali pada ukuran
normal yaitu konsisten pada tugas, apakah Allah akan ridho kita tidak beribadah
hanya karena kejadian irreguler dan masalah? lalu bagaimana kita menjadi rahmatan
lil alamin utk memakmurkan alam, bukan hanya utk diri sendiri saja
kan? belum lagi kita juga memiliki kewajiban 'mengajak' atau dakwah menuju
jalan yang benar....sangat mirip kan? dan semuanya akan berjalan normal dalam
keadaan Allah Ridho....maka seluruh pahala, kemudahan,
pertolongan Allah dan kasih sayang-Nya akan turun pada orang-orang yang
diridhoi-Nya...di sinilah kenapa orang tidak tenang, tidak bahagia karena
cara-caranya yang di luar keridhoan Allah...
Bukankah ini ciri-ciri
orang bertaqwa? ia merasa harus telili dalam menjalankan STANDAR yaitu
perintah2-Nya dan tentu jangan keluar dari STANDAR, yaitu menjauhi
segala larangan-Nya...ia merasa takut kepada-Nya tetapi tetap bersahaja dan
penuh integritas tanpa menyusahkan atau menyulitkan
orang lain...
seorang yang sudah
kompeten tidak perlu diawasi dengan keyakinannya berpedoman pada standar karena
ia memiliki integritas diri, orang taqwa memiliki IMAN,
begitu juga orang yang taqwa ia senantiasa merasa selalu diawasi Allah meski ia
tdk mampu melihat-Nya, atau IHSAN...seorang yang kompeten akan
tulus menuntaskan seluruh rangkaian teknisnya...tak jauh beda seperti orang
taqwa yang IKHLAS menjalani semuanya...ia juga menyerahkan
seluruhnya kepada Allah agar selamat dan itulah yang disebut ISLAM...
semoga kita meraih
predikat TAQWA karena inilah satu-satunya ukuran keselamatan kita di akhirat
kelak...
terima kasih
guru-guruku..teman-temanku, yang bantuin dan telah direpotkan membantuku....dan semuanya atas pencerahan yang diraih
ini....mohon dimaafkan atas segala kesalahan dan kekurangan..semoga Allah
membalas seluruh kebaikannya dengan lebih berlipat ganda, Amin.
ayo, bersama kita maju
!!!
Kamis, 26 April 2012
Kebahagian Hidup Menurut Al-quran
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (Qs. Al Qoshos : 77).
Sesungguhnya setiap manusia mendambakan kehidupan bahagia, aman dan sejahtera. Tak satupun yang menginginkan kesusahan, terancam, dan sengsara. Inilah insting naluriah dan kebutuhan mendasar manusia yang selalu ingin digapai dengan bermacam cara menurut konsep hidup yang tertanam dalam fikirannya. Munculnya insting tersebut dikarenakan dorongan potensi nafsu yang sengaja Allah adakan bagi tiap insan. Dengan adanya nafsu, maka manusia akan berupaya mempertahankan eksistensi (keberadaannya) di dunia, karena nafsu diciptakan untuk melayani kebutuhan pokok manusia selaku makhluq hidup.
Manusia membutuhkan pemuasan sandang, pangan, papan, pengetahuan, cinta kasih dan sayang, perhatian, berpasangan, pengakuan, dan sebagainya. Inilah contoh perilaku manusia yang didorong oleh nafsu. Maka manusia dibenarkan untuk saling mencari, memberi dan menerima semua itu. Namun ketika dalam mencarinya membulkan ketimpangan, kecurangan, kerugian atau menzalimi salah di lain pihak, maka hal itu tidak dibenarkan menurut akal yang sehat. Untuk itulah perlu diterapkan suatu aturan main yang dapat menjaga hak-hak tiap makhluq-bukan hanya manusia- secara adil dan jujur.
Aturan hidup atau konsep hidup inilah yang dikenal secara umum sebagai agama. Bagi ummat muslim dikenal dengan Dien, Manhaj, Thoriqoh, atau Syariat. Sedangkan aturan itu sendiri dikenal dengan illah (aturan yang wajib ditha'ati). Sesungguhnya hanya ada dua macam konsep atau system aturan hidup di dunia ini. Pertama sistem yang berlandaskan nafsu dan kedua sistem berlandaskan wahyu. Karena manusia selain diberi Allah dengan potensi nafsu juga dibekali aqal tempat penerimaan hidayah.
Nafsu yang pada awal keberadaannya adalah bersifat tenang dalam memberikan sinyal dan dorongan untuk melayani hajat kehidupan manusia akan dapat berubah menjadi serakah, amarah, lawwamah, dan musawilah. Perubahan ini disebabkan nafsu tersebut telah dipengaruhi bisikan iblis. Dalam alqur-an dinyatakan tentang hal ini :
'"Hai nafsu/jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, Masuklah ke dalam jannah-Ku." (Qs. Al Fajr :27-30).
"Yang dila'nati Allah (Iblis) dan ia mengatakan: "Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (nafsu)." (Qs.an Nisa : 118)
Hasutan iblis inilah yang disebut dengan 'qalam syarr' (bisikan jahat) yang apabila diiikuti manusia dan jin akan menimbulkan sifat jahat atau syaithon. Karena lafadz syaithon berasal dari kata sayaatin (yang jauh dari kebaikan). Dalam ayat lain dinyatakan :
"Katakanlah: "Aku berlindung kepada Robb yang menguasai al falaq (peredaran alam). Dari (qalam) kejahatan yang diciptakan-Nya." (Qs. Al falaq : 1-2)
Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia." (Qs. An Naas : 4-5).
Dalam hadits qudsi dijelaskan bahwa :
"Sesungguhnya Allah yang Maha Berkat dan Maha Tinggi menggenggam satu genggaman di kananNya maka berfirman : ini untuk ini dan aku tidak peduli, dan menggenggam yang lain yaitu ditanganNya yang lain maka berfirman : ini untuk ini dan aku tidak peduli."
(HR. Ahmad dari Abu Nazhor).
Dalam genggaman kanan maksudnya qalam wahyu dan dalam genggaman lainnya maksudnya qalam syarr, wallahu'alam.
"dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan." (Qs.al Balad : 10)
Yang dimaksud dengan dua jalan ialah jalan kebajikan dan jalan kejahatan (qalam syarr). Sengaja Allah ciptakan Iblis yang membawa qalam syarr untuk menguji kualitas amal ibadah setiap manusia, agar manusia dibalasi di akhirat sesuai ˜amalnya ketika diberi kesempatan hidup didunia yang singkat.
"Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat." (Qs. Al Hajj : 53).
Berbeda dengan nafsu yang dapat menjadi intusi syaithoniyah, keberadaan aqal di dalam hati manusia adalah sebagai tempat tertanamnya 'qalam wahyu'. Suara nafsu syaithoniyah dan suara aqal yang berlandaskan wahyu selamanya akan 'bersaing' untuk menguasai fikiran manusia. Ketika fikiran diserahkan kepada nafsu maka kerusakan dan kezaliman yang muncul. Sebaliknya jika aqal sehat yang terdapat dalam hati nurani terdalam manusia yang senantiasa menyuarakan al haq yang diikuti niscaya akan membawa keberuntungan dan kebahagiaan sejati, serta keadilan
"Adapun sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada (hati) orang-orang yang diberi ilmu dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim." (Qs. Al Ankabut : 49)
"dan orang-orang yang menjauhi Thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku, yaitu orang-orang yang selalu mendengarkan Perkataan (Fatwa) lalu mengikuti apa yang paling baik (Al qur-an) di antaranya, mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal". (Qs.Azzumar:17-18)
Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain Allah s.w.t. Maksudnya 'ahsan' ialah mereka yang mendengarkan ajaran-ajaran Al Quran dan ajaran-ajaran yang lain, tetapi yang diikutinya ialah konsep ajaran-ajaran Al Quran karena ia adalah yang paling baik.
A. Konsep Hidup Berlandaskan Nafsu dan Pengikutnya
"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai illah-nya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja." (Qs. Al Jaatsiyah :23-24)
Banyak orang yang merasa berilmu namun justru mengingkari/mangkir dari konsep al Qur-an. Mereka hanya mengandalkan ro'yun (buah fikiran) yang dilandasi nafsu dan sudah merasa benar. Akibatnya mereka dibiarkan Allah sesat dengan ilmu mereka sendiri. Sedangkan kemampuan fikiran manusia hanya sebatas masalah-masalah lahiriyah / materi duniawiyah. Artinya segala sesuatu yang kasat mata di segala penjuru langit dan bumi dapat dianalisa secara eksakta oleh fikiran manusia. Namun masalah ghoib (antara lain : Zat Allah, malaikat, ruh, akhirat, rizqi, takdir, bala' dan maut) mustahil dapat dianalisa fikiran manusia. Ruh yang terdapat dalam jasad manusia saja tidak dapat dianalisa manusia apalagi perkara ghaib lainnya. Allah menyatakan dalam Surah Ruum ayat 7 :
"mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai."
Sekarang ini dapat disaksikan secara jelas bahwa sebagian besar manusia bahkan dari kalangan muslim yang mengambil aturan hidup selain dari Dienullah. Satu contoh kasus, mereka gandrung dengan sistem hidup miliknya orang kafir dari buah fikiran Socrates, plato, Machiavelli, Kent, Dente, dan penerusnya. Yaitu sistem politik berasaskan kebatilan 'suara rakyat adalah suara tuhan'. Lalu dipadukanlah dengan aturan dari Allah sehingga muncul istilah 'Politik Islam' dan 'Demokrasi' ˜ala Islam. Terbukti sampai saat ini tidak ada bukti keberhasilan sistem bathil tersebut dalam menjaga hak-hak manusia secara adil dan jujur.
Manusia mau tidak mau akan menemui hari akhirat yang kekal. Disinilah letak permasalahannya. Karena jika kita hanya hidup di dunia kemudian tidak akan dibangkitkan lagi maka bolehlah manusia hidup sekehendaknya dan menafikan agama (baca:dienul Islam) dan tidak perlu ada. Namun ternyata perbuatan kita di dunia yang sangat singkat ini bisa berakibat penyesalan yang sangat panjang atau juga kebahagiaan hakiki di akhirat kelak. Sungguh sangat merugi orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai illah /ikutan/pegangan hidup serta mengada-ada dalam urusan Allah.
Nafsu yang telah berasosiasi dengan bisikan iblis inilah yang menyesatkan banyak manusia dari jalan Allah. Munculnya agama-agama dan aliran sesat adalah dari buah fikir atau hasil budidaya fikiran manusia yang telah dihasut iblis. Keberhasilan iblis ini antara lain karena banyak manusia tidak mewaspadai keberadaan iblis bahkan menganggap tidak ada serta kurang upaya untuk kembali ke tuntunan yang benar. Definisi Agama secara luqhowi berbeda dengan Dinul Islam yang merupakan hak mutlaq Allah yang tidak boleh dicampuri dengan buah fikiran manusia. Bahkan rosulullah pun dilarang menggunakan ro'yun dalam urusan Islam. Agama berasal dari dua suku kata dari bahasa sansekerta, A adalah tidak, gama/gomo adalah kocar-kacir. Jadi agama bermakna aturan dari manusia agar tidak hidup kucar-kacir.
"Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah Addien yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar." (Qs. Az-Zumar :3)
"dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) Menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi." (Qs. An Najm :3-7).
B. KONSEP HIDUP BERLANDASKAN ALQUR-AN
Tentu sama kita fahami bahwa bagi setiap muslim, al Qur-an adalah satu-satunya pilihan jalan lurus yang mampu menghantarkan manusia kepada tujuan hidup sebenarnya yaitu ridho Allah.
"dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa." (Qs. Al an̢۪am : 153).
Jaminan Allah kepada setiap manusia bahwa dengan menerapkan konsep wahyu yang tertuang dalam al Qur-an dan dijelaskan RosulNya dalam haditsnya akan muncul keberkahan hidup di dunia, persatuan ummat, dan keselamatan dunia-akhirat. Dalam keberkahan terkandung makna kebahagiaan, keadilan, kejujuran dan keselamatan. Bahkan hanya dengan rujuk kepada al qur-an ini hamba-hambaNya dapat menyatu satu-sama lain. Tapi dengan meninggalkan atau mengambil sebagian saja dari ajaran al Qur-an lalu dicampuradukkan dengan ajaran dari fikiran manusia, justru muncul firqoh-firqoh dan mahzab-mahzab baru dalam Islam. Hal inilah yang perlu dicermati sungguh-sungguh oleh setiap muttabi' rosul. Allah dan rosulNya mengingatkan akan hal ini. Ditambah lagi tidak ada satupun para Imam dan Ulama Salaf terdahulu didalam kitab mereka memerintahkan manusia untuk wajib bermahzab mengikuti mereka. Bahkan memerintahkan untuk rujuk kepada sumber ajaran mereka, yaitu al Qur-an dan assunnah.
"dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah (al Qur-an), dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.†(Qs. Ali Imran : 103)
Hadits :
"Barangsiapa yang tidak berhukum kepada ketetapan Kitabullah, dan mengada-adakan selain yang diturunkan Allah, niscaya diantara mereka diadakan Allah permusuhan yang hebat
(HR.Abu Dawud, Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar)
Menyikapi munculnya firqoh-firqoh dan mahzab maka al Qur-an mengajarkan kepada kita
"Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat." (Qs. Al An'am :159)
Firqoh disini maksudnya: ialah golongan yang amat fanatik kepada pemimpin-pemimpinnya. Namun demikian dikarenakan Dinul Islam adalah konsep aturan kehidupan yang bersifat bersih, final, syumul, lengkap serta mampu menjawab segala tantangan zaman, maka tidak dibenarkan seorang muslim menambahi atau menguranginya. Jika diibaratkan dengan sebuah bangunan rumah, maka Islam adalah rumah yang indah tiada bandingnya. Didalamnya terjamin keamanan dan kesejahteraan. Setiap sudut bangunan dan pekarangannya terpancar keagungan pemiliknya. Maka siapapun yang menyatakan taslim (tunduk) kepada Islam berarti ingin menjadi penghuni bangunan itu tentu ia harus menthaati aturan pemiliknya. Tidak dibenarkan seorangpun yang berlindung didalamnya mengubah bentuknya, mengotori, atau merusak bangunan itu. Bahkan kita diperintahkan untuk menjaga serta merawat keaslian dan keindahan bangunan tersebut.
Golongan yang Sedikit
"Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa." (Qs. Huud : 116)
Tidaklah aneh jika kebanyakan manusia enggan memulai mengadakan perbaikan bahkan hanya sedikit sekali, beberapa gelintir hamba pilihanNya yang mau menerima perintah ini. Mereka inilah yang disebut dalam al Qur-an sebagai ˜Ulu Baqiyah (kelompok sisa). Seperti gambaran rosul beserta sahabat yang hanya berjumlah 313 orang yang mengikuti perang pertama kali membela Islam di Badar. Kemenangan justru bukan berada pada banyaknya pengikut, justru sedikit orang namun benar langkahnya insyaAllah akan dihantarkan kepada kemenangan serta dijadikan pemicu semangat bagi hamba Allah lainnya. Maka disinilah letak tanggung jawab muslim terutama para ulama dalam menjaga dan membela Islam. Allah pun memberi janji melalui hadits rosulNya bahwa setiap pangkal seratus tahun akan dibangkitkanNya Mujadid-Mujadid yang akan menjaga kemurnian Islam. Maukah kita dimasukkan Allah dalam golongan yang sedikit namun memiliki keutamaan derajat di sisiNya? Wallahu'alam bi showab.
Konsep "bahagia" itu adalah.....
|
Rabu, 18 April 2012
Cerita Sukses
Apapun cerita sukses, akan diminati banyak orang.
Tak seorang pun yang tidak mengiginkan sukses.
Namun seringkali, kesuksesan itu bak pisau bermata dua..
di satu sisinya saja yang sering dianggap dan dihargai orang
sedang sisi lainnya tidak atau jarang diketahui.
Sisi kesuksesan lebih banyak diceritakan orang, tetapi sisi kegagalan sering banyak dilupakan.
Padahal dibalik kegagalan lah pelajaran hidup itu lebih banyak memberikan bimbingan, dibanding kesuksesan itu sendiri yang memiliki dampak melenakan.
Banyak pakar dan sudah menjadi rahasia umum bahwa Sukses dapat didefinisikan sebagai pertemuan antara peluang dan kesiapan.
Bagi pelaku bisnis, peluang bukan hanya ditunggu-tunggu, tetapi justru mereka menciptakan peluang. Dan peluang itu tidak datang dua kali. Namun seringkali perbedaaannya adalah pada kesiapannya. Siapa yang siap saat menangkap peluang, dialah yang akan sukses.
Contoh sederhana dapat dilihat dari cerita petualangan berikut ini.
Sejumlah orang-orang pecinta alam sedang berombongan melintasi jembatan yang di bawahnya terletak sungai dengar arus air yang cukup deras.
Sejurus kemudian, kelompok pertama melihat ada seseorang yang terperosok dan jatuh ke sungai. lalu kelompok ini berusaha mengatasi masalah. Mereka coba menyusun sebuah organisasi, menunjuk ketua kelompok, regu penyelamat dan seksi logistik, namun apa yang terjadi ? orang yang tenggelam ini malah makin terseret arus dan tidak tertolong.
Berbeda ceritanya, bagi seorang yang melihat peluang, maka ia akan langsung terjun menangkap tangan atau bagian tubuh orang yang tenggelam tadi, lalu kemudian meminta bantuan kelompok atau teman lainnya untuk mengulurkan tali atau apapun jenis bantuannya. dan dialah yang akan menyelamatkan orang yang akan tenggelam tadi.
Nah, cerita menyusun organisasi memang tidaklah salah namun tidak akan menyelamatkan pada saatnya ada orang tenggelam dan itu terlambat!. Sedangkan seorang pengambil resiko akan segera bertindak mengambil langkah. Inilah yang dinamakan mengamankan "peluang". Jadi bila "organisasi" itu diibaratkan sebagai kesiapan, maka sejak jauh-jauh dari keberadaan peluang haruslah disiapkan. Maka bila kesiapan sepeti ini bertemu dengan peluang, maka kesuksesan yang akan didapatkan.
Minggu, 15 April 2012
7 Kebiasaan Orang yang Bahagia
Orang-orang yang bahagia akan memiliki kebiasaan yang membahagiakan pula; sesederhana itu. Orang-orang paling bahagia yang saya kenal memiliki 7 kebiasaan yang terlihat jelas dalam diri mereka. Jika anda ingin membuat hidup anda lebih bahagia, anda mungkin dapat mempertimbangkan untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan berikut ini dalam kehidupan anda.
“Sebagian orang merasa bahagia sesuai dengan apa yang mereka pikirkan”.
- Abraham Lincoln -
1. Ikut Ambil Bagian dalam Sesuatu yang Anda Minati – Anda bisa mengikuti kegiatan apapun. Anda bisa ikut ambil bagian dalam kegiatan yang bersifat religius, bergabung dengan kelompok yang mendukung tujuan tertentu, atau menapaki karir anda dengan tekun. Dalam setiap kegiatan yang anda pilih, hasil psikologis yang diraih mempunyai sifat sama. Anda ikut ambil bagian sepenuhnya dalam kegiatan yang anda minati. Kegiatan semacam ini akan memberikan kebahagiaan dan makna dalam kehidupan anda.
2. Habiskan Waktu Bersama Teman-Teman dan Keluarga – Kehidupan yang bahagia adalah kehidupan yang anda lalui bersama teman-teman dan keluarga. Semakin kuat hubungan pribadi yang anda miliki serta semakin kerap interaksi bersama teman-teman dan keluarga, maka semakin bahagia pula anda.
3. Pikirkan Hal-hal yang Positif – Seringkali orang terlalu berkonsentrasi pada hal-hal negatif dan tidak menyisakan waktu untuk merefleksikan hal-hal yang berhasil mereka raih secara positif. Merupakan hal yang alami bagi seseorang untuk mengkoreksi keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka dan memfokuskan diri mereka pada hal tersebut, namun harus terdapat keseimbangan dalam menempatkan diri anda. Sangatlah penting untuk merefleksikan hal-hal baik yang anda peroleh sementara anda mengkoreksi hal-hal yang buruk. Mengingatkan diri anda terus menerus terhadap kesuksesan pribadi yang anda raih setiap harinya akan memiliki dampak positif yang sangat berarti dalam kebahagiaan emosional anda.
4. Gunakan Sumber Daya yang Anda Miliki – Orang rata-rata biasanya merasa kagum ketika mereka melihat seseorang yang memiliki kekurangan fisik memperlihatkan tanda-tanda kebahagiaan secara emosional. Bagaimana mungkin seseorang yang berada dalam kondisi fisik seperti itu bisa terlihat begitu bahagia? Jawabannya terletak pada bagaimana mereka menggunakan sumber daya yang mereka miliki. Stevie Wonder tak bisa melihat, jadi ia menggunakan kemampuan mendengarnya dalam dunia musik, dan ia sekarang memiliki 25 piala Grammy sebagai bukti.
5. Ciptakan Akhir yang Bahagia Setiap Waktu – Kekuatan dari akhir merupakan sesuatu yang mengagumkan. Akhir dari sebuah pengalaman yang dialami seseorang dapat mengubah persepsi keseluruhan orang tersebut. Bayangkan anda sedang membaca sebuah novel yang memprovokasi pikiran anda. Sekarang bayangkan bagian akhir dari novel tersebut ternyata sangat buruk. Meskipun cerita nya sangat menegangkan hingga saat-saat menjelang akhir, apakah anda akan tetap merekomendasikan novel tersebut pada orang lain? Orang selalu mengingat bagian akhirnya. Jika bagian akhir tersebut berakhir bahagia, maka pengalaman tersebut juga menciptakan perasaan bahagia. Selesaikan apa yang sedang anda kerjakan, selesaikan dalam keadaan baik, dan ciptakan akhir yang bahagia dalam kehidupan anda jika memungkinkan.
< 6. Gunakan Kekuatan Pribadi Untuk Menyelesaikan Sesuatu – Setiap orang memiliki kekuatan pribadi yang unik. Kita memiliki bakat dan keahlian yang berbeda. Kebahagiaan emosi akan datang secara alami pada mereka yang menggunakan kekuatan pribadinya untuk menyelesaikan sesuatu. Ketika anda berhasil mencapai sesuatu karena keahlian anda sendiri, maka penghargaan psikologis yang anda peroleh sangatlah bernilai.
7. Nikmati Setiap Kebahagiaan yang Anda Raih – Hal-hal terbaik yang bisa anda nikmati di dunia ini sifatnya gratis. Hal-hal tersebut muncul dalam bentuk yang sederhana dan muncul di hadapan anda pada waktu dan tempat yang tidak bisa anda duga. Kebahagiaan semacam ini diatur oleh alam dalam situasi tertentu dan ditangkap oleh panca indera kita. Momen semacam ini mungkin saja muncul saat anda sedang melihat pantulan sinar matahari terbenam dari sebuah kolam ketika anda sedang menggenggam tangan orang yang anda sayangi. Menyadari kemunculan momen-momen semacam ini akan menimbulkan kebahagiaan tak terduga dalam kehidupan anda.
Langganan:
Postingan (Atom)
Farmasi Sebagai Profesi
" Pharmacy : The art or profession of preparing and preserving drugs, and of compounding and dispensing medication according to the...
-
" Pharmacy : The art or profession of preparing and preserving drugs, and of compounding and dispensing medication according to the...
-
Pahala adalah HADIAH yg diberikan Allah SWT kepada manusia apabila ia lulus dari ujian yang dihadapinya. Ujian-ujian ini pd dasarnya terle...
-
“Dan barangsiapa yg menyerahkan dirinya kepada Allah sedangkan ia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada ...













