Sabtu, 16 November 2013

ketika segala sesuatu terasa lebih sulit.... #The Show Must Go On...

Kadang kehidupan itu tak selalu berpihak pada keiinginan kita. Kenyataan dan harapan sering terjadi ketimpangan. Apa yang kita inginkan, kenyataannya sering tidak sesuai dengan apa yang benar-benar terjadi. Alhasil, sesuatunya terasa lebih sulit untuk menjalani tugas-tugas sehari-hari, bahkan hal-hal yang kecil sekalipun jadi terasa lebih berat.

Mendengar seorang presenter TVRI berujar, "Berpikirlah positif, sering masalah itu timbul hanya karena tinjauan pikiran saja. Kenyataan yang sama, bisa menjadi masalah pelik, bisa juga menjadi suatu tantangan yang asyik untuk dihadapi, itulah kehidupan! Bukan keadaan tetapi bagaimana cara kita berpikir". 

Memang terasa mudah men"saintifikasi" fenomena keadaan menjadi sebuah catatan. Tetapi bagi siapapun yang menjalani kenyataannya, tetap saja semua itu terasa sulit. Well...mari kita ubah sedikit istilahnya saja dulu. Bukan "sulit" tetapi "tidak mudah".

Kalau tidak percaya. Manga silakan kamu sekarang rasakan jadi warga Tacloban Filipina yang baru saja terkena Topan Dahsyat Haiyan. "Mau bilang badai pasti berlalu??". Lihatlah mereka yang benar-benar tinggal di rumah yang porak poranda itu. Memang untuk sesaat bisa saja, menata pikiran positif untuk menenangkan diri. "Tenang, badai pasti berlalu kok". Tetapi detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, minggu berganti minggu, dan seterusnya, yang terlihat langsung adalah kenyataan hancurnya lingkungan sekitar, rumah-rumah yang berantakan, barang-barang yang entah berpindah ke mana, mayat-mayat berserakan....tetap saja toch akan meruntuhkan sekedar pikiran positif itu, menjadi pikiran yang muram dan tidak menentu. Pikiran itu sangat tergantung pada apa yang terlihat bukan?. 

Jadi lebih arif sajalah menilai "bencana" yang sedang terjadi itu. Mari rasakan dulu, mari berempati dulu untuk sama-sama memposisikan diri pada "keadaan sebenarnya" lalu lihat apa yang dirasakan....sekali lagi pikiran saja tidaklah cukup untuk menjalani kehidupan, perlu sinergisasi antara pikiran, perasaan, emosi, motivasi,  dan dukungan lingkungan sekitar. 

Menata diri. Perlu terus dilakukan. Manusia memiliki kemampuan untuk bertahan dan meneruskan kehidupan. Karena manusia diberi berbagai potensi, maka ia diciptakan untuk memiliki kemampuan. Ujian yang terjadi adalah untuk meningkatkan kualitasnya. Karena ilmu yang diterapkan dengan baik sajalah yang kemudian akan merekonstruksi pikiran, penglihatan, pendengaran dan hati menjadi energi sinergis yang dahsyat untuk menegakkan semangat tetap berdiri, bangkit berlari meneruskan estafeta kehidupan.

Ya, sesuatu yang benar-benar tidak pernah dipengaruhi oleh pikiran, perasaan, emosi, simpati atau empati sekalipun adalah "Kehidupan" itu sendiri. Kehidupan itu akan terus berjalan. Seperti waktu, yang tidak pernah akan berhenti. Meski seluruh makhluk seisi bumi memaki waktu, "hey waktu, berhenti kamu!!!!!", maka, 'waktu' itu tetap saja tidak akan berhenti. Manusia itu berbeda. Selain 'seoonggok jasmani, dalam diri manusia itu ada banyak hal-hal kompleks lainnya yang saling mempengaruhi. Jadi, tidaklah mudah mensinergiskan 'hal-hal kompleks" ini, selain dengan benar-benar menyadari dan meyakini akan kekuatan dan kebesaran Sang Maha Pencipta yang sekaligus juga Sang Maha Pemelihara. Berangkat dari keyaninan inilah kemudian munculnya 'spirit' yang memacu energi diri. Menata pikiran supaya lebih bergerak maju ke arah yang positif. Mengatur detak jantung untuk tetap stabil dengan mengambil nafas dalam sehingga lebih bisa menguasai diri. Terus menerus, tanpa henti, barulah kemudian manusia itu berangsur-angsur seperti aliran darah yang bisa kembali mensinergiskan diri untuk menselaraskannya kembali dengan berjalannya kehidupan yang tidak mengenal kompromi.

The show must go on...sesulit apapun yang dirasakan manusia. Kehidupan itu tetap saja berjalan menuju destinasi yang telah pasti ditentukan oleh Sang Maha Pengatur. Kita tak bisa menyalahkan keadaan, meski seringkali tak berpihak pada kita, sebagai alasan untuk meratapi diri. Sebaliknya, kita juga tak bisa meninggalkan kehidupan ini secara tidak bertanggung jawab dengan menghindar dan pergi. Karena, di kehidupan inilah semua "skenario" itu terjadi...manusia hanyalah menjalani peran, dan peran yang dijalani dengan sepenuh hati sajalah yang akan selaras dengan skenario kehidupan...makin kita menentang skenario sang "sutradara" kehidupan, makin mencaci maki ketidakadilan dan makin meratapi diri, maka justru keadaan sulit itu akan makin menjadi-jadi....sekali lagi, justru skenario kehidupan itu sendirilah yang kemudian akan meninggalkan kita....

Jadi, bangkit dan berdirilah dengan tegak, menatap penuh harap dan yakin lebih pasti menjalani kehidupan. Semakin kita menunjukkan keberpihakan dan pengakuan akan kekuatan sang Pencipta pada karunia yang dititipkannya pada kita, yaitu berupa potensi diri yang dimiliki, maka di sinilah kita sebagai manusia yang memiliki status mulia untuk mengambil peran secara lebih proaktif. Yakinlah, hanya dengan ikhtiar kita sajalah nasib kita itu akan berubah...dan biarlah kesedihan serta kesulitan itu menghimpit kita, karena dengan kesedihan dan kesulitan itulah pribadi yang tangguh itu dibentuk,  yakinlah bahwa kemampuan untuk tetap bertahan dan menjadi lebih baik lagi akan selalu mendapat bimbingan Sang Pemangku Kehidupan.

The Show must go on kawan....
Selamat berjuang.

Kisah Katak Kecil

Suatu hari ada segerombolan katak-katak kecil bermain di taman. Malangnya ada beberapa katak yang jatuh ke dalam lubang yang cukup dalam. Katak yang lain terkejut dan mengelilingi lubang di mana katak-katak itu jatuh.
Ketika mereka melihat lubang itu, mereka berkata pada katak-katak yang jatuh bahwa mereka tidak mungkin bisa menaklukkan lubang itu. Katak-katak  itu tidak menghiraukan komentar-komentar yang  mereka dengar, mereka mencoba melompat keluar dari lubang itu.
Sedapat mungkin mereka melompat untuk keluar, sekali lagi kerumunan katak berteriak agar berhenti berusaha karena percuma tidak akan mungkin bisa keluar dari lubang itu.
Akhirnya katak-katak yang ada di lubang itu menuruti teriakan katak-katak yang lain yang menyuruhnya berhenti melompat. Satu persatu katak-katak yang jatuh di lubang itu pun meninggal.
Lain halnya dengan salah satu katak, melihat temannya satu persatu meninggal, dia lebih bersemangat melanjutkan usaha untuk melompat sedapat mungkin. Sekali lagi kerumunan katak berteriak agar berhenti berusaha dan mati saja mungkin itu jalan terbaik untuknya.

  1. Katak itu berusaha melompat lebih kencang dan akhirnya berhasil. Akhirnya dengan sebuah lompatan yang kencang, dia berhasil sampai ke atas.
  2. Katak lainnya takjub dengan semangat katak yang satu ini, dan bertanya, “Apa kamu tidak mendengar teriakan kami?” Lalu katak itu dengan membaca gerakan bibir katak yang lain menjelaskan bahwa sebenarnya dia tuli.
  3. Mereka kaget, “Ternyata katak yang berhasil keluar dari lubang itu tuli!” Mereka sadar bahwa saat di bawah tadi mereka dianggap telah memberikan semangat kepada katak tersebut.
  4. Hikmah dari cerita di atas: Setiap kali merasa terjatuh pada lubang "kesulitan":....ingatlah....
  5. Jangan pernah mendengar orang lain yang mempunyai kecenderungan negatif ataupun pesimis, karena mereka mengambil sebagian besar mimpimu dan menjauhkannya darimu.
  6. Berlakulah tuli jika orang lain berkata kepadamu, bahwa kamu tidak bisa menggapai cita-citamu!

Teman yang baik adalah teman yang bisa saling mendukung satu sama lain.
Untuk sukses kadang suatu kali, kita perlu meniru "kisah katak tuli" ini sebagai inspirasi. Bukan berarti mengecilkan pengaruh masukan kiri-kanan yang akan selalu ada. Tetapi lebih menebalkan keyakinan diri bahwa kemampuan itu selalu ada bagi orang yang selalu memiliki keyakinan.


Farmasi Sebagai Profesi

" Pharmacy : The art or profession of preparing and preserving drugs, and of compounding and dispensing medication according to the...