Minggu, 25 Juli 2010

Kerusakan Generasi

Generasi adalah bukti. Bukti dari sebuah perjalanan hidup sebuah bangsa dapat dilihat dari perwujudan dan tingkah laku generasinya.Generasi yang buruk adalah gambaran kegagalan. Membentuk generasi yang lebih baik menjadi isyarat perubahan.

Lihat saja fenomena ARIEL-LUNA-CUT TARI (Malah katanya masih ada nama lain), benarkah mereka ini idola seperti yang diidam-idamkan banyak orang? bukankah mereka adalah public figure yang akan banyak dicontoh khalayak ramai. Namun, miris rasanya menceritakan Ketiga Artis papan atas Indonesia ini adalah bukti dari sebuah generasi..oh alangkah malangnya bangsa ini.

Sejenak pipi ini berseri, demi melihat sang buah hati menari-nari dengan tingkahnya yang lucu. Tetapi, sejenak kemudian kening ini pun mengernyit ..duh apa jadinya masa depan anak negeri, jika tontonan, media massa, dan contoh yang mereka lihat sehari-hari hanyalah menyedihkan hati.

GAJI TINGGI BUKAN SEGALANYA... .

Mengapa perputaran karyawan tinggi walaupun remunerasinya di atas rata-rata? Uangkah pemicunya? Atau ada faktor lain yang menentukan kesetiaan mereka?

Akhir tahun lalu, Lesmana, seorang teman lama yang ahli dalam pengembangan bisnis telekomunikasi mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan multinasional untuk mengembangkan bisnisnya di Indonesia . Dia tertarik dan memutuskan untuk bergabung. Dia telah banyak mendengar tentang pimpinan perusahaan ini, yang sering diberitakan sebagai pemimpin visionaris dan legendaris.

Gaji Lesmana besar, perlengkapan kantornya mutakhir, teknologinya canggih, kebijakan SDM-nya pro-karyawan, kantornya megah di daerah segitiga emas, bahkan kantinnya menyajikan makanan yang lezat dan murah. Dua kali dia dikirim keluar negeri untuk pelatihan. "Proses pembelajaran saya adalah yang tercepat di sini,"kata Lesmana. "Sungguh menakjubkan bekerja dengan dukungan teknologi mutakhir seperti di perusahaan ini".

Siapa nyana dua minggu lalu, belum genap tujuh bulan bekerja di perusahaan itu, dia mengundurkan diri. Lesmana belum mendapatkan tawaran pekerjaan lain, tapi dia tidak sanggup lagi bertahan di sana. Belakangan, sejumlah karyawan di divisi yang sama dengannya ikut resigned. Direktur utama perusahaan itu pun merasa tertekan karena perputaran (turnover) karyawan sangat tinggi. Cemas memikirkan biaya yang sudah dikeluarkan perusahaan untuk alokasi dana pelatihan karyawan. Ia juga bingung lantaran tidak tahu apa gerangan yang terjadi. Mengapa karyawan yang bertalenta bagus ini mengundurkan diri, padahal gajinya sudah cukup tinggi?

Lesmana resigned karena beberapa alasan. Alasan ini juga yang menyebabkan sebagian besar karyawan lain yang bertalenta tinggi akhirnya mengundurkan diri.

Beberapa survey membuktikan bahwa jika anda kehilangan karyawan berbakat, periksalah atasan langsung mereka. Si atasan adalah alasan utama karyawan tetap bekerja dan berkembang dalam suatu perusahaan. Namun dia jugalah yang menjadi alasan utama mengapa para karyawan berhenti dari pekerjaannya, membawa pergi pengetahuan, pengalaman dan klien mereka. Bahkan tidak jarang selanjutnya secara terang-terangan berkompetisi dengan perusahaan bekas tempatnya bekerja.

"Karyawan meninggalkan manajernya bukan perusahaannya,"kata para ahli SDM. Begitu banyak uang yang telah dikeluarkan untuk tetap mempertahankan karyawan berbakat, baik dengan memberikan gaji lebih tinggi, bonus ekstra maupun pelatihan mahal. Namun pada akhirnya, perputaran karyawan kebanyakan disebabkan oleh manajer/pimpinannya , bukan oleh hal lain.
Jika anda mengalami masalah turnover , maka pertama-tama periksalah kembali para manajer anda. Apakah mereka biang keladi yang membuat para karyawan tidak betah?. Pada tahap tertentu, karyawan tidak lagi melihat jumlah uang yang ia dapatkan, tapi lebih kepada bagaimana mereka diperlakukan dan seberapa besar perusahaan menghargai mereka.. Kedua hal ini umumnya tergantung dari sikap para pimpinan terhadap mereka. Dan sejauh ini, bekerja dengan atasan yang buruk sering dialami oleh para karyawan yang bekerja dengan baik. Survey majalah Fortune beberapa tahun lalu mengungkapkan bahwa 75% karyawan menderita karena berada di bawah atasan yang menyebalkan.

Dari seluruh penyebab stress ditempat kerja, seorang atasan yang jahat mungkin adalah hal yang terburuk, yang secara langsung akan mempengaruhi kinerja dan mental para karyawan.

Simak saja kisah yang dikutip langsung dari"medan perang" ini. Mulya seorang insinyur, masih bergidik saat membayangkan hari-hari dimana ia dimaki-maki bos di depan staf lainnya. Atasannya itu sering menghina dengan kata-kata yang kasar. Waktu menghadapi hal menakutkan itu, Mulya praktis tak punya nyali untuk menjawab. Ia kembali ke rumah dengan perasaan tidak keruan dan mulai menjadi kasar seperti sang atasan. Bedanya kekesalan ini dilampiaskan ke istri dan anak-anaknya, kadang juga ke anjing peliharaannya. Lambat laun, bukan pekerjaan Mulya saja yang kacau balau, pernikahan dan keluarganya pun hancur berantakan.

Nasib Agus juga setali tiga uang. Menceritakan "penyiksaan" yang dilakukan oleh bosnya gara-gara ada perbedaan pendapat yang tidak terlalu penting antara keduanya. Atasan Agus benar-benar menunjukkan rasa tidak suka terhadapnya. Ia tidak lagi diikut-sertakan dalam pengambilan keputusan. "Bahkan dia tidak lagi memberikan saya dokumen maupun pekerjaan baru," keluh Agus. "Sangat memalukan duduk di depan meja kosong tanpa tahu apapun dan tidak seorangpun yang membantu saya". Lantaran tidak tahan lagi, lalu Agus mengundurkan diri.

Para ahli SDM mengatakan, dari segala bentuk kekerasan, tindakan memperlakukan karyawan ditempat umum adalah yang terburuk. Pada awalnya, si karyawan mungkin tidak langsung mengundurkan diri, akan tetapi pikiran itu sudah tertanam. Jika kejadian terulang lagi, pikiran tersebut akan semakin kuat. Dan akhirnya, pada kejadian yang ketiga, karyawan itu akan mulai mencari pekerjaan lain. Ketika seseorang tidak bisa membalas kemarahannya, ia akan melakukan pembalasan "pasif". Biasanya dengan cara memperlambat pekerjaan, berleha-leha, hanya melakukan pekerjaan yang disuruh atau menyembunyikan informasi penting. "Jika anda bekerja untuk orang yang menyebalkan, pada dasarnya anda ingin orang itu mendapat kesulitan. Jiwa dan pikiran kita tidak menyatu lagi dengan pekerjaan kita," papar Agus.

Para manajer bisa menekan bawahan melalui beragam cara. Misalnya dengan mengontrol bawahan secara berlebihan, curiga, menekan, terlalu kritis, bawel dan sebagainya. Namun para atasan tersebut tidak sadar bahwa karyawan bukan merupakan aset tetap, mereka adalah manusia bebas. Jika ini terus berlanjut, maka seorang karyawan akan mengundurkan diri, walau tampaknya cuma karena masalah sepele saja.

Bukan pukulan ke-100 yang menjatuhkan seseorang, tapi 99 pukulan yang diterima sebelumnya. Memang benar, karyawan meninggalkan pekerjaannya karena bermacam alasan untuk kesempatan yang lebih baik atau kondisi yang tidak memungkinkan lagi. Namun banyak yang semestinya tetap tinggal jika tidak ada satu orang (seperti atasan Lesmana) yang terus-menerus mengatakan," Kamu tidak penting, saya bisa dapat lusinan orang yang lebih baik dari kamu!".

Kendati tersedia segudang pekerjaan lain (terlebih dalam keadaan pengangguran tinggi sekarang ini), bayangkanlah
sesaat, berapa biaya atas hilangnya seorang karyawan yang bertalenta tinggi.. Ada biaya yang harus dibayar untuk mencari pengganti, ada biaya pelatihan bagi pengganti karyawan tersebut. Belum lagi akibat yang ditimbulkan karena tidak ada orang yang mampu melakukan pekerjaan itu saat calon pengganti sedang dicari, kehilangan klien dan kontak yang dibawa pergi karyawan yang hengkang, penurunan moral karyawan lainnya, hilangnya rahasia penjualan dari karyawan tersebut yang seharusnya diinformasikan ke karyawan lainnya, dan yang terutama turunnya reputasi perusahaan. Lagi pula, setiap karyawan yang pergi, bagaimanapun juga akan menjadi"duta" untuk mewartakan hal yang baik maupun yang buruk dari perusahaan itu.

Kita semua tahu suatu perusahaan telekomunikasi besar yang orang-orang ingin sekali bergabung, atau suatu bank yang hanya sedikit orang ingin menjadi bagiannya. Mantan karyawan kedua perusahaan ini telah keluar untuk menceritakan kisah pekerjaannya. "Setiap perusahaan yang berusaha memenangkan persaingan harus memikirkan
cara untuk mengikat jiwa setiap karyawannya," kata Jack Welch mantan orang nomor satu di General Electric.

Umumnya nilai suatu perusahaan terletak "diantara telinga" para karyawannya. Karyawan juga manusia, punya mata, punya hati...

Selasa, 13 April 2010

Figur seorang ayah


Sering kerinduan akan figur seorang ayah, menjadi pendorong banyak perubahan dalam hidup sang anak. Mungkin…kalau hanya meminta, takkan pernah semua cita dan asa itu terwujud…kalau tidak memberi. Maka, ‘menjadi’ itu lebih utama daripada ‘mengingini’…. Sungguh tetesan air mata pun takkan sanggup menjelaskannya …
Saat menatap wajah polos dan ‘innocent’ anak bayiku yang mulai terlelap tertidur…muncullah pikiran itu…Yah, ia hanya butuh didekap koq..dieyong-eyong, dan dilindungi…hingga nakal, manja bahkan ‘ogo’nya pun lenyap….oh iya…mungkin itu memang karena ia terlewat mengantuk saja…ok!
Ia menangis, bahkan meneteskan air mata, ia memang sejatinya masih membutuhkan ASI..tetapi saat ibunya bekerja….ia bahkan akan tetap tertidur dalam dekapan ayahnya…bukan tertidur sendiri di kasur mungil tempat seperti biasanya….lagi-lagi mungkin itu karena bayiku lelah menangis hingga tertidur…
Ia meronta,menangis, bahkan menjerit  saat ia menolak wajah orang asing…maka lagi-lagi figur ayahnya lah yang ia butuhkan untuk membuatnya reda…ia butuh kedekatan…ia butuh ketenangan…ia butuh pelindung…jiwanya!...apakah berarti ia tidak butuh orang lain…tentu tidak…ia hanya butuh waktu saja…
Bayi, semungil usia 6 bulan…takkan bisa berbohong…ia penuh kepolosan…simbol ketulusan dan kemurnian…walau ia tak ikut kursus khusus apapun…tetapi nalurinya membawa pada kenyataan karunia…              Ia mencari yang dibutuhkannya…meski dengan menangis, meronta, bahkan dengan nakal dan manjanya.
Mungkin, diantara sejuta rasa dan bahasa…hanya kasih sayang yang tak perlu ‘repot’ dikenalkan padanya…yah, anak adalah magnet kasih sayang itu sendiri…kasih sayang inilah bahasa yang ia peroleh sejak di alam rahim ibunya…(teringatlah…bahwa rahim itu sendiri adalah berasal dari salah satu nama Ar-Rahim: Maha Penyayang)
Bila kasih sayang ini, ternoda…niscaya perubahan sangat mendasar terjadi pada diri sang anak…
Ia akan belajar berontak, bahkan ia akan terus tumbuh dalam jiwa penuh gejolak…terlebih karena bentakan dan cacian, hanya akan menekannya lebih (layaknya pegas) kuat menipiskan jiwa kasih sayang dalam dirinya untuk terus berontak dan membalas…
Karena anak tidak hanya hidup sebagai raga..melainkan ia hidup karena jiwanya atas kehendak yang Maha memberi karunia…bahkan jiwa inilah yang akan terus ada..jadi, kebutuhan jiwa  inilah kebutuhan anak paling mendasar :yah,  kasih sayang adalah kebutuhan azali seorang anak!..
Kelak kebutuhan azali inilah yang akan bertemu dengan petunjuk dan..niscaya hanya dengan bahasa kasih sayanglah…petunjuk ini pun akan lebih mudah diterima sang anak untuk menjadikannya manusia dewasa..ia akan memilih…dan menerima pilihan….maka sosok Ayah yang tegas dan penuh kasih sayang  adalah figur yang dibutuhkan anak untuk bertumbuh seiring jiwanya demi menghadapi hidup di dunia yang penuh fatamorgana dan tipuan melenakan…
Untuk Inspirasiku ….ayahmu yang masih terus belajar…

GAJI TINGGI BUKAN SEGALANYA... .

Mengapa perputaran karyawan tinggi walaupun remunerasinya di atas rata-rata? Uangkah pemicunya? Atau ada faktor lain yang menentukan kesetiaan mereka? 

Akhir tahun lalu, Lesmana, seorang teman lama yang ahli dalam pengembangan bisnis telekomunikasi mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan multinasional untuk mengembangkan bisnisnya di  Indonesia . Dia tertarik dan memutuskan untuk bergabung. Dia telah banyak mendengar tentang pimpinan  perusahaan ini, yang sering diberitakan sebagai pemimpin visionaris dan legendaris. 

Gaji Lesmana besar, perlengkapan kantornya mutakhir, teknologinya canggih, kebijakan SDM-nya pro-karyawan, kantornya megah di daerah segitiga emas,  bahkan kantinnya menyajikan makanan yang lezat dan  murah. Dua kali dia dikirim keluar negeri untuk pelatihan. "Proses pembelajaran saya adalah yang tercepat di sini,"kata Lesmana. "Sungguh menakjubkan bekerja dengan dukungan teknologi mutakhir seperti di perusahaan ini". 

Siapa nyana dua minggu lalu, belum genap tujuh bulan bekerja di perusahaan  itu, dia mengundurkan diri. Lesmana belum mendapatkan tawaran pekerjaan lain, tapi dia tidak sanggup lagi bertahan di sana. Belakangan, sejumlah karyawan di divisi yang sama dengannya ikut resigned. Direktur utama perusahaan itu pun merasa tertekan karena perputaran (turnover) karyawan sangat tinggi. Cemas memikirkan biaya yang sudah dikeluarkan perusahaan untuk alokasi dana pelatihan karyawan. Ia juga bingung lantaran tidak tahu apa gerangan yang terjadi. Mengapa karyawan yang bertalenta bagus ini mengundurkan diri, padahal gajinya sudah cukup tinggi? 

Lesmana resigned karena beberapa alasan. Alasan ini juga yang menyebabkan sebagian besar karyawan lain yang bertalenta tinggi akhirnya mengundurkan diri. 

Beberapa survey membuktikan bahwa jika anda kehilangan karyawan berbakat,  periksalah atasan langsung mereka. Si atasan adalah alasan utama karyawan tetap bekerja dan berkembang dalam suatu perusahaan. Namun dia jugalah yang menjadi alasan utama mengapa para karyawan berhenti dari pekerjaannya, membawa pergi pengetahuan, pengalaman dan klien mereka. Bahkan tidak jarang selanjutnya secara terang-terangan berkompetisi dengan perusahaan bekas tempatnya bekerja. 

"Karyawan meninggalkan manajernya bukan perusahaannya,"kata para ahli SDM.  Begitu banyak uang yang telah dikeluarkan untuk tetap mempertahankan karyawan berbakat, baik dengan memberikan gaji lebih tinggi, bonus ekstra maupun pelatihan mahal. Namun pada akhirnya, perputaran karyawan kebanyakan disebabkan oleh manajer/pimpinannya , bukan oleh hal lain.
Jika anda mengalami masalah turnover , maka pertama-tama periksalah kembali para manajer anda. Apakah mereka biang keladi yang  membuat para karyawan tidak betah?. Pada tahap tertentu, karyawan tidak lagi melihat jumlah uang yang ia dapatkan, tapi lebih kepada bagaimana mereka diperlakukan dan seberapa besar perusahaan menghargai mereka.. Kedua hal ini umumnya tergantung dari sikap para pimpinan terhadap mereka. Dan sejauh ini, bekerja dengan atasan yang buruk sering dialami oleh para karyawan yang bekerja dengan baik. Survey majalah Fortune beberapa tahun lalu mengungkapkan bahwa  75% karyawan menderita karena berada di bawah atasan yang menyebalkan. 

Dari seluruh penyebab stress ditempat kerja, seorang atasan yang jahat  mungkin adalah hal yang terburuk, yang secara  langsung akan mempengaruhi  kinerja dan mental para  karyawan. 

Simak saja kisah yang dikutip langsung dari"medan perang" ini. Mulya seorang  insinyur, masih bergidik saat membayangkan hari-hari  dimana ia dimaki-maki  bos di depan staf lainnya.  Atasannya itu sering menghina dengan kata-kata yang  kasar. Waktu menghadapi hal menakutkan itu, Mulya praktis tak punya nyali  untuk menjawab. Ia kembali  ke rumah dengan perasaan tidak keruan dan mulai  menjadi kasar seperti sang atasan. Bedanya kekesalan ini dilampiaskan ke istri dan anak-anaknya, kadang juga ke anjing peliharaannya. Lambat laun, bukan pekerjaan Mulya saja yang kacau balau, pernikahan dan keluarganya pun hancur berantakan. 

Nasib Agus juga setali tiga uang. Menceritakan "penyiksaan" yang dilakukan  oleh bosnya gara-gara ada perbedaan pendapat yang  tidak terlalu penting  antara keduanya. Atasan Agus benar-benar menunjukkan  rasa tidak suka terhadapnya. Ia tidak lagi diikut-sertakan dalam pengambilan keputusan.  "Bahkan dia tidak lagi memberikan saya dokumen  maupun pekerjaan baru," keluh  Agus. "Sangat memalukan duduk di depan meja kosong tanpa tahu apapun dan tidak seorangpun yang membantu saya". Lantaran tidak  tahan lagi, lalu Agus mengundurkan diri. 

Para ahli SDM mengatakan, dari segala bentuk kekerasan, tindakan  memperlakukan karyawan ditempat umum adalah yang terburuk. Pada awalnya, si karyawan mungkin tidak langsung mengundurkan diri, akan tetapi pikiran itu sudah tertanam. Jika kejadian terulang lagi, pikiran tersebut akan semakin  kuat. Dan akhirnya, pada kejadian yang ketiga, karyawan itu akan mulai mencari pekerjaan lain. Ketika seseorang tidak bisa  membalas kemarahannya,  ia akan melakukan pembalasan "pasif". Biasanya dengan cara memperlambat pekerjaan, berleha-leha, hanya melakukan pekerjaan yang disuruh atau menyembunyikan informasi penting. "Jika anda bekerja untuk orang yang menyebalkan, pada dasarnya anda ingin orang itu mendapat kesulitan. Jiwa dan pikiran kita tidak menyatu lagi dengan pekerjaan kita," papar Agus. 

Para manajer bisa menekan bawahan melalui beragam cara. Misalnya dengan mengontrol bawahan secara berlebihan, curiga,  menekan, terlalu kritis, bawel  dan sebagainya. Namun para atasan tersebut tidak sadar bahwa karyawan bukan merupakan aset tetap, mereka adalah manusia bebas. Jika ini terus berlanjut, maka seorang karyawan akan mengundurkan diri, walau tampaknya cuma karena masalah sepele saja. 

Bukan pukulan ke-100 yang menjatuhkan seseorang, tapi 99 pukulan yang diterima sebelumnya. Memang benar, karyawan meninggalkan pekerjaannya karena bermacam alasan untuk kesempatan yang lebih baik atau kondisi yang tidak memungkinkan lagi. Namun banyak yang semestinya tetap tinggal jika tidak ada  satu orang (seperti atasan Lesmana) yang  terus-menerus mengatakan," Kamu  tidak penting, saya bisa dapat lusinan orang yang lebih baik dari kamu!". 

Kendati tersedia segudang pekerjaan lain (terlebih dalam keadaan pengangguran tinggi sekarang ini), bayangkanlah
sesaat, berapa biaya atas  hilangnya seorang karyawan yang bertalenta tinggi.. Ada biaya yang harus dibayar untuk mencari pengganti, ada biaya pelatihan  bagi pengganti karyawan  tersebut. Belum lagi akibat yang ditimbulkan karena tidak ada orang yang mampu melakukan pekerjaan itu saat calon pengganti sedang dicari, kehilangan klien dan kontak yang dibawa pergi karyawan yang hengkang, penurunan moral karyawan lainnya, hilangnya rahasia penjualan dari  karyawan tersebut yang seharusnya diinformasikan ke karyawan lainnya, dan yang terutama turunnya  reputasi perusahaan. Lagi pula, setiap karyawan yang pergi, bagaimanapun juga akan menjadi"duta" untuk mewartakan hal yang baik maupun yang buruk dari perusahaan itu. 


Kita semua tahu suatu perusahaan telekomunikasi besar yang orang-orang ingin sekali bergabung, atau suatu bank yang hanya sedikit orang ingin menjadi bagiannya. Mantan karyawan kedua perusahaan ini telah keluar untuk menceritakan kisah pekerjaannya.  "Setiap perusahaan yang berusaha memenangkan persaingan harus memikirkan
cara untuk mengikat jiwa setiap karyawannya," kata Jack Welch mantan orang nomor satu di General Electric. 


Umumnya nilai suatu perusahaan terletak "diantara telinga" para karyawannya. Karyawan juga manusia, punya mata, punya hati... (JUNIUS LEE,CEO & Managing Consultant)
Have a positive day!

Benarkah Satu-satunya alasan bekerja adalah untuk mendapatkan uang?

Satu-satunya alasan bekerja adalah untuk mendapatkan uang.


Salah besar, jika saatu-satunya alasan bekerja untuk mendapatkan uang. Bekerja adalah salah satu cara kita belajar mendapatkan uang. Jadi kalau pekerjaan kita tidak bisa meningkatkan ilmu kita dalam mendapatkan uang, maka kita harus berhati-hati!


Uang adalah akar dari segala kejahatan.

Bila Anda memiliki keyakinan ini, Anda akan menganggap uang adalah jelek. Padahal uang itu netral. Uang tergantung orang yang memanfaatkan. Untuk kejelekan bisa, untuk berbuat baik juga sangat bisa.

Jawaban dan keyakinan yang membuat Anda berdaya:

Tidak punya uang juga sebagai akar kejahatan. Betul tidak? Silahkan perhatikan pemulung dan preman, kadang mereka rela melakukan perbuatan criminal karena uang.

Uang adalah akar dari kesenangan dan kebahagiaan. Dengan uang kita bisa lebih mudah meraih kebahagiaan. (Penjelasan lengkap bisa dilihat di buku Kaya Tanpa Bekerja)

Uang bukan segalanya


Bila ini keyakinan Anda, maka Anda akan memiliki sifat 5 L (loyo, letih, letoi, lunglai, lemot) dalam meraih uang.

Uang memang bukan segalanya tapi dengan uang segalanya menjadi mungkin. Jadi kita harus punya uang sebanyak-banyaknya untuk mempermudah kehidupan ini.

Pertanyaannya:

Siapa yang menomorsatukan keluarga?

Siapa yang menomorsatukan kesehatan?

Dan lain2..

Kalau memang Anda misalnya menomorsatukan keluarga, kenapa Anda tidak bersama keluarga terus sama keluarga selama 24 jam? Demikian juga kalau Anda menomorkan kesehatan, kenapa Anda harus bekerja yang bisa cape dan mengapa tidak merawat kesehatan terus dengan berbagai cara selama 24 jam?

Jadi…

Jalan tengahnya adalah, uang kita selesaikan dulu…. Kita punya banyak uang dan kita punya sumber penghasilan passive (money make money)…. Habis itu silahkan kerjakan yang lain..

Hidup ini memang harus balance, tapi bila masalah uang sudah selesai duluan…, membuat balance hidup, menjadi lebih mudah…

Rabu, 17 Februari 2010

si Kecil...

"Sesuatu yang besar selalu diawali dari langkah yang kecil".

"Karena, tidak sedikit sesuatu yang besar rusak dan ambruk oleh sesuatu yang kecil"

"Mencoba, melangkah, mencoba, melangkah dan mencoba serta melangah terus"

Farmasi Sebagai Profesi

" Pharmacy : The art or profession of preparing and preserving drugs, and of compounding and dispensing medication according to the...